Ferdi adalah teman baik aku. Cuek dan apa adanya, itu sifat dia. Teman-teman bilang dia ganteng, makanya cewek-cewek satu sekolahan banyak yang naksir sama dia. Walaupun jadi idola, dia tidak pernah besar kepala, makanya dia mau jadi teman dia.
“Chensing!!” Teriak dia pada Ferdi. Hampir setiap hari anak-anak satu sekolah terganggu pendengarannya karena kata itu aku sebutin. Begitu dekatnya kami, sampai kami pernah bolos pelajaran Pak Suripto guru killer di sekolah bersama karena sama-sama tidak mengerjakan PR.
Persahabatan kami berlangsung begitu lama. Namun saat lulus SMP, kami harus berpisah. Ferdi meneruskan sekolah ke luar negri dan aku tetap di Jakarta. Awalnya komunikasi tetap terjalin, namun seiring dentang jam berbunyi, kami berdua sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan tidak lagi saling berkomunikasi.
Hati gundah gulana ingin bertemu Chensing, sahabat karibku. Hanya dalam angan dan mimpi aku dapat bertemu dengannya. Setiap detik bayangannya selalu berjalan di hadapan aku. Namun aku gak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Kini usiaku menginjak 17 tahun. Tepatnya satu minggu lagi. Tiba-tiba saat aku meniup lilin ulang tahun ke 17ku, sesosok cowok bermata sipit yang cuek dan apa adanya berdiri di hadapanku.
“Chensing!!” Sontak teriakan aku ketika SMP terdengar kembali.
Dengan membawa sebungkus permen karet kesukaanku, dia datang di hari ulang tahunku. “ I love you.” Ucapnya padaku. Seketika jantungku berdegup kencang mendengarnya. Ternyata selama ini bukan hanya aku yang selalu memikirkannya. Dia pun selalu terbayang akan diriku. Aku sangat bahagia, kini sahabat lamaku kembali dan menjadi belahan jiwaku.
“Chensing!!” Teriak dia pada Ferdi. Hampir setiap hari anak-anak satu sekolah terganggu pendengarannya karena kata itu aku sebutin. Begitu dekatnya kami, sampai kami pernah bolos pelajaran Pak Suripto guru killer di sekolah bersama karena sama-sama tidak mengerjakan PR.
Persahabatan kami berlangsung begitu lama. Namun saat lulus SMP, kami harus berpisah. Ferdi meneruskan sekolah ke luar negri dan aku tetap di Jakarta. Awalnya komunikasi tetap terjalin, namun seiring dentang jam berbunyi, kami berdua sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan tidak lagi saling berkomunikasi.
Hati gundah gulana ingin bertemu Chensing, sahabat karibku. Hanya dalam angan dan mimpi aku dapat bertemu dengannya. Setiap detik bayangannya selalu berjalan di hadapan aku. Namun aku gak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Kini usiaku menginjak 17 tahun. Tepatnya satu minggu lagi. Tiba-tiba saat aku meniup lilin ulang tahun ke 17ku, sesosok cowok bermata sipit yang cuek dan apa adanya berdiri di hadapanku.
“Chensing!!” Sontak teriakan aku ketika SMP terdengar kembali.
Dengan membawa sebungkus permen karet kesukaanku, dia datang di hari ulang tahunku. “ I love you.” Ucapnya padaku. Seketika jantungku berdegup kencang mendengarnya. Ternyata selama ini bukan hanya aku yang selalu memikirkannya. Dia pun selalu terbayang akan diriku. Aku sangat bahagia, kini sahabat lamaku kembali dan menjadi belahan jiwaku.

