“Ya Tuhan bilakah kan tiba dia untukku?” Ucapku dalam hati kala aku melihat eman-teman lainnya menemukan tambatan hatinya. Aku adalah seorang cewek yang kelihatan dari lur seperti cewek yang kuat dan tegar. Bahkan orang lain mengira bahwa aku selalu bisa mengontrol perasaanku dan selalu bisa memecahkan segala maslah yang aku alami. Tetapi sesungguhnya aku hanyalah seorang cewek yang rapuh dan lemah seperti gundukan pasir dan apabila ada segulung ombak menerpanya, seketika dia akan hancur.
Fina membutuhkan seseorang yang mau menerimanya apa adanya, seseorang yang dapat menentramkan hatinya, seseorang yang dapat meneduhkan sukmanya, dan seseorang yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Adakah seseorang itu untuknya? Yang dia lakukan hanyalah selalu berdo'a dan berdo’a agar belahan jiwnya datang dan menjemputnya. Membawanya ke taman asmara, yang dipenuhi oleh beribu-ribu bunga rindu. Di sana dia bermain-main ersama menerbangkan bulir-bulir cinta dan membagikannya pada semua orang.
”Akankah kan tiba dia untukku? Saat aku duduk termenung menunggu kedatangannya, saat bulan dan bintang dengan sinarnya menemaniku, saat aku terjatuh di peraduan penantian, saat aku tertawa akan canda peri yang menhhiburku.” Aku yakin akan belahan jiwaku itu. Cepat ataupun lambat, aku akan selalu menggunya, menunggunya, menunggunya, dan teta enunggunya. Hingg bumi lelah untuk berputar, hingga jantung enggan untuk berdetak, dan hingga malaikat maut datang menjemput nyawaku.


0 komentar:
Posting Komentar